KIMIA
ORGANIK 1
ORBITAL
DAN PERANANNYA DALAM IKATAN KOVALEN
A.
ORBITAL HIBRIDASI NITROGEN DAN OKSIGEN
Teori hibridisasi sering
digunakan dalam kimia organik, biasanya digunakan untuk menjelaskan molekul
yang terdiri dari atom C, N, dan O (kadang kala juga P dan S). Penjelasannya
dimulai dari bagaimana sebuah ikatan terorganisasikan dalam metana.
Pembentukan ikatan dalam senyawa harus sesuai dengan aturan hibridisasi yaitu :
1. Orbital yang bergabung harus mempunyai tingkat energi sama atau hampir sama
2. Orbital hybrid yang terbentuk sama banyaknya dengan orbital yang bergabung.
3. Dalam hibridisasi yang bergabung adalah orbital bukan electron
Pembentukan ikatan dalam senyawa harus sesuai dengan aturan hibridisasi yaitu :
1. Orbital yang bergabung harus mempunyai tingkat energi sama atau hampir sama
2. Orbital hybrid yang terbentuk sama banyaknya dengan orbital yang bergabung.
3. Dalam hibridisasi yang bergabung adalah orbital bukan electron
Pembentukan orbital hybrid
melalui proses ibridisasi adalah sebagai berikut :
1. Salah satu electron yang berpasangan berpromosi ke orbital yang lebih tinggi tingkat energinya sehingga jumlah electron yang tidak berpasangan sama dengan jumlah ikatan yang akan terbentuk. Atom yang sedemikian disebut dalam keadaan tereksitasi. Promosi yang mungkin adalah dari ns ken p dan ns ke ns ke nd atau (n-1)d
2. Penggabungan orbital mengakibatkan kerapatan electron lebih besar di daera orbital hybrid.
3. Terjadi tumpang tindih orbital hybrid dengan orbital atom lain sehingga membentuk ikatan kovalen atau kovalen koordinasi.
1. Salah satu electron yang berpasangan berpromosi ke orbital yang lebih tinggi tingkat energinya sehingga jumlah electron yang tidak berpasangan sama dengan jumlah ikatan yang akan terbentuk. Atom yang sedemikian disebut dalam keadaan tereksitasi. Promosi yang mungkin adalah dari ns ken p dan ns ke ns ke nd atau (n-1)d
2. Penggabungan orbital mengakibatkan kerapatan electron lebih besar di daera orbital hybrid.
3. Terjadi tumpang tindih orbital hybrid dengan orbital atom lain sehingga membentuk ikatan kovalen atau kovalen koordinasi.
B. Hibrid sp
Salah satu contoh orbital sp terjadi pada Berilium diklorida. Berilium mempunyai 4 orbital dan 2 elektron pada kulit terluar. Pada hibridisasi Berilium dijelaskan bahwa orbital 2s dan satu orbital 2p pada Be terhibridisasi menjadi 2 orbital hibrida sp dan orbital 2p yang tidak tribridisasi. Diagram hibridisasinya sebagai berikut : Terjadi pada BeH2 dan BeCl2°Hibridisasi sp membentuk geometri linear dengan sudut 180
Salah satu contoh orbital sp terjadi pada Berilium diklorida. Berilium mempunyai 4 orbital dan 2 elektron pada kulit terluar. Pada hibridisasi Berilium dijelaskan bahwa orbital 2s dan satu orbital 2p pada Be terhibridisasi menjadi 2 orbital hibrida sp dan orbital 2p yang tidak tribridisasi. Diagram hibridisasinya sebagai berikut : Terjadi pada BeH2 dan BeCl2°Hibridisasi sp membentuk geometri linear dengan sudut 180
C. Hibrid sp2
Salah satu contoh orbital hirbid sp2 diasumsikan terjadi pada Boron trifluorida. Boron mempunyai 4 orbital tapi hanya 3 eletron pada kulit terluar. Hibridisasi boron mengkombinasikan 2s dan 2 orbital 2p menjadi 3 orbital hybrid sp2 dan 1 orbital yang tidak mengalami hibridisasi. Skema hibridisasi Boron adalah sebagai berikut :
Salah satu contoh orbital hirbid sp2 diasumsikan terjadi pada Boron trifluorida. Boron mempunyai 4 orbital tapi hanya 3 eletron pada kulit terluar. Hibridisasi boron mengkombinasikan 2s dan 2 orbital 2p menjadi 3 orbital hybrid sp2 dan 1 orbital yang tidak mengalami hibridisasi. Skema hibridisasi Boron adalah sebagai berikut :
°Orbital
hybrid sp2 menjadi bentuk trigonal planar dengan sudut ikatan120
D. Hibrid sp3
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang berikatan dari sudut pandang sebuah atom. Untuk sebuah karbon yang berkoordinasi secara tetrahedal (seperti metana, CH4), maka karbon haruslah memiliki orbital-orbital yang memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom hidrogen. Konfigurasi keadaan dasar karbon adalah 1s2 2s2 2px1 2py1 atau lebih mudah dilihat:
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang berikatan dari sudut pandang sebuah atom. Untuk sebuah karbon yang berkoordinasi secara tetrahedal (seperti metana, CH4), maka karbon haruslah memiliki orbital-orbital yang memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom hidrogen. Konfigurasi keadaan dasar karbon adalah 1s2 2s2 2px1 2py1 atau lebih mudah dilihat:
(Perhatikan bahwa orbital
1s memiliki energi lebih rendah dari orbital 2s, dan orbital 2s berenergi
sedikit lebih rendah dari orbital-orbital 2p)
Teori ikatan valensi memprediksikan, berdasarkan pada keberadaan dua orbital p yang terisi setengah, bahwa C akan membentuk dua ikatan kovalen, yaitu CH2.
Teori ikatan valensi memprediksikan, berdasarkan pada keberadaan dua orbital p yang terisi setengah, bahwa C akan membentuk dua ikatan kovalen, yaitu CH2.
1. Atom Nitrogen
Ikatan kovalen tidak hanya terbentuk dalam senyawa
karbon, tetapi juga dapat dibentuk oleh atom-atrom lain. Semua ikatan kovalen
yang dibentuk oleh unsur-unsur dalam tabel periodik dapat dijelaskan dengan
orbital hibrida. Secara prinsip, pembentukan hibrida sama dengan pada atom
karbon. Amonia, NH3, salah satu contoh molekul yang mengandung ikatan kovalen
yang melibatkan atom nitrogen. Atom nitrogen memiliki konfigurasi ground-state:
1s2 2s2 2px1 2py1 2pz1, dan
memungkinkan atom nitrogen berikatan dengan tiga atom
hidrogen.
Ketika terdapat tiga elektron tak berpasangan mengisi
orbital 2p,
ini memungkinkan orbital 1s dari hidrogen untuk overlap
dengan
orbital 2p tersebut membentuk ikatan sigma. Sudut ikatan
yang
terbentuk adalah 107.30, mendekati sudut tetrahedral
(109.50). Nitrogen
memiliki lima elektron pada kulit terluarnya. Pada
hibridisasi sp3, satu
orbital sp3 diisi oleh dua elektron dan tiga orbital sp3
diisi masingmasing
satu elektron.
Ikatan sigma terbentuk dari overlap orbital hibrida sp3
yang
tidak berpasangan tersebut dengan orbital 1s dari
hidrogen
menghasilkan molekul ammonia. Dengan demikian, ammonia
memiliki bentuk geometri tetrahedral yang mirip dengan
metana.
Ikatan N-H memiliki panjang 1.01 A dan kekuatan ikatan
103
kkal/mol.
Nitrogen memiliki tiga elektron tak berpasangan pada
orbital
hibrid sp3, ketika satu elektron dalam orbital hibrida
tersebut
tereksitasi ke orbital p maka terbentuk hibrida baru,
yaitu sp2. Elektron
pada orbital p digunakan untuk membentuk ikatan pi. Jadi,
atom
nitrogen yang terhibridisasi sp2 memiliki satu ikatan pi
yang
digunakan untuk membentuk ikatan rangkap dua, mirip
dengan
molekul etena. Apabila elektron yang tereksitasi ke
orbital p ada dua
maka nitrogen memiliki kemampuan membentuk dua ikatan pi
atau
satu ikatan rangkap tiga (hibridisasi sp).
2. Oksigen
Elektron
pada ground-state atom oksigen memiliki konfigurasi:
1s2
2s2 2px2 2py1 2pz1, dan oksigen merupakan atom divalen.
Dengan melihat konfigurasi
elektronnya, dapat diprediksi bahwa
oksigen mampu membentuk dua
ikatan sigma karena pada kulit
terluarnya terdapat dua elektron
tak berpasangan (2py dan 2pz).
Air adalah contoh senyawa yang
mengandung oksigen sp3.
sudut ikatan yang terbentuk
sebesar 104.50. diperkirakan bahwa orbital
dengan pasangan elektron bebas
menekan sudut ikatan H-O-H,
sehingga sudut yang terbentuk
lebih kecil dari sudut ideal (109.50),
seperti halnya pasangan elektron
bebas dalam ammonia menekan
sudut ikatan H-N-H.
Oksigen juga dapat terhibridisasi
sp2, yaitu dengan
mempromosikan satu elektronnya ke
orbital p.
Dalam kondisi ini, oksigen hanya
memiliki satu ikatan sigma, tetapi
juga memilki satu ikatan pi.
Contoh molekul yang memiliki atom
oksigen terhibridisasi sp2 adalah
pada senyawa-senyawa karbonil.
B. IKATAN RANGKAP TERKONJUGASI
Ikatan
rangkap konjugasi adalah ikatan rangkap selang seling dengan ikatan tunggal
atau disebut juga elektronnya dapat berpindah-pindah (terdelokalisasi).
Sistem
konjugasi terjadi dalam senyawa organik yang atom-atomnya secara kovalen
berikatan tunggal dan ganda secara bergantian (C=C-C=C-C) dan memengaruhi satu
sama lainnya membentuk daerah delokalisasi elektron. Elektron-elektron pada
daerah delokalisasi ini bukanlah milik salah satu atom, melainkan milik
keseluruhan sistem konjugasi ini. Contohnya, fenol (C6H5OH memiliki sistem 6
elektron di atas dan di bawah cincin planarnya sekaligus di sekitar gugus
hidroksil.
C.
BENZENA DAN RESONANSI
Berdasarkan hasil analisis sinar-X maka diusulkan bahwa
ikatan rangkap pada molekul benzena tidak terlokalisasi pada karbon tertentu
melainkan dapat berpindah-pindah (terdelokalisasi). Gejala ini dinamakan resonansi.
Resonansi terjadi karena adanya delokalisasi elektron dari
ikatan rangkap ke ikatan tunggal. Delokalisasi elektron yang terjadi pada
benzena pada struktur resonansi adalah sebagai berikut:

Teori resonansi dapat menerangkan mengapa benzena sukar
diadisi. Sebab, ikatan rangkap dua karbon-karbon dalam benzena terdelokalisasi
dan membentuk semacam cincin yang kokoh terhadap serangan kimia, sehingga tidak
mudah diganggu. Oleh karena itulah reaksi yang umum pada benzena adalah reaksi
substitusi terhadap atom H tanpa mengganggu cincin karbonnya.
Benzena merupakan termasuk dari golongan senyawa aromatis
yang paling sederhana. Benzena mempunyai rumus (C6H6) di mana merupakan dari
hidrokarbon tidak jenuh sehingga mudah bereaksi dengan senyawa atau unsur lain
membentuk senyawa baru. Rumus molekul benzena telah ditemukan sejak tahun 1834
yaitu C6H6. Rumus molekul ini memperlihatkan ketidakjenuhan karena tidak
memenuhi rumus CnH2n+2. Akan tetapi benzena tidak memperlihatkan
ketidakjenuhan, benzena tidak melunturkan warna air bromin (tidak diadisi oleh
bromin). Hasil percobaan menunjukkan bahwa monosubstitusi benzena, C6H5X, tidak
mempunyai isomer. Hal ini mengisyaratkan bahwa keenam atom H pada benzena
mempunyai kedudukan yang ekivalen.
Sementara itu, disubstitusi benzena, C6H4X2, mempunyai tiga
isomer. Rumus struktur benzena menjadi persoalan bertahun-tahun yang kemudian
terselesaikan atas usul Kekule tahun 1865 yang mengusulkan agar enam atom
hidrogen yang terikat pada atom-atom karbon pada molekul C6H6 dibuat setara.
Menurut Friedrich August Kekule, keenam atom karbon pada
benzena tersusun secara siklik membentuk segienam beraturan dengan sudut ikatan
masing-masing 120°. Ikatan antaratom karbon adalah ikatan rangkap dua dan
tunggal bergantian (terkonjugasi).
Sifat Fisik senyawa benzena
·
Zat cair tidak berwarna
·
Memiliki bau yang khas
·
Mudah menguap
·
Benzena digunakan sebagai pelarut.
·
Tidak larut dalam pelarut polar seperti air air, tetapi larut dalam
pelarut yang kurang polar atau nonpolar, seperti eter dan tetraklorometana
·
Larut dalam berbagai pelarut organik.
·
Benzena dapat membentuk campuran azeotrop dengan air.
·
Densitas : 0,88
·
Senyawanya berupa senyawa lingkar/siklis.
·
Terjadi resonansi (pergerakan elektron di dalam molekul).
·
Terjadi delokalisasi elektron pada struktur benzena.
·
Mempunyai aroma yang khas.
Sifat Kimia senyawa benzena
·
Bersifat bersifat toksik-karsinogenik (hati-hati menggunakan benzena
sebagai pelarut, hanya gunakan apabila tidak ada alternatif lain misalnya
toluena)
·
Merupakan senyawa nonpolar
·
Tidak begitu reaktif, tapi mudah terbakar dengan menghasilkan banyak
jelaga
·
Lebih mudah mengalami reaksi substitusi dari pada adisi.
·
walaupun sukar diadisi tapi benzena masih dapat diadisi dengan katalis yang
tepat, misalnya:
1.
Adisi dengan hidrogen dengan katalis Ni/Pt halus.
2.
Adisi dengan Cl2 atau Br2 dibawah sinar matahari.
·
Sukar dioksidasi dengan senyawa oksidator seperti KMnO4, K2Cr2O7, dll.
·
Reaksi pada benzena harus menggunakan katalis karena kestabilan molekul
benzena.
saya ingin menambahkan sedikit, bahawa Ikatan sigma dapat terbentuk dari tumpang tindih orbital C-C, H-H, dan C-H. Kekuatan ikatan sigma lebih besar diandingkan daripada ikatan phi. Ikatan phi dihasilkan karena tumpang tindih dua orbital H yang berdekatan dan sejajar. Pada orbital atom C-C membentuk ikatan sigma orbital atom dan molekul elektron, memperlihatkan ikatan sigma dari dua orbital s dan sebuah ikatan sigma dari dua orbital H.
BalasHapusterima kasih atas komentarnya semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca.
BalasHapusHai Ismi Hasanah... Terimakasih atas postingannya. saya ingin menambahkan materi tentang IKATAN RANGKAP TERKONJUGASI. Menurut Sumber buku (Fessenden & Fessenden.2005:67-69)
BalasHapusMolekul organic dapat mengandung lebih dari satu gugus fungsi. Dalam kebanyakan senyawa polifungsional. Ada dua cara pokok untuk menempatkan ikatan rangkap dalam senyawa organic. Dan ikatan yang bersumber pada atom berdampingan pada atom disebut ikatan rangkap konjungasi. Ikatan rangkap yang menggambarkan atom yang tak berdampingan disebut ikatan rangkap terisolasi atau tak terkonjungasi.
Ikatan rangkap terisolasi berkelakuan mandiri, masing-masing ikatan rangkap mengalami reaksi seakan-akan yang lain tak ada. Ikatan rangkap terkonjungasi, sebaliknya tak saling mandiri yang satu terhadap yang lainnya, ada interaksi elektronik yang terdapat antaranya.
Ikatan rangkap konjugasi adala ikatan rangkap selang seling dengan ikatan tunggal atau disebut juga elektronnya dapat berpindah-pindah (terdelokalisasi).ikatan rangkap keadaan yang terjadi dalam senyawa tak jenuh yang didalam nya terdapat dua ikatan tunggal( satu ikatan sigma dan ikatan pi)menghubungkan dua atom.
Ikatan rangkap terkonjugasi ialah ikatan yang kedudukan nya di selang oleh satu ikatan tunggal seperti -CH=CH-CH=-CH.Pengaturan kembali electron melalui orbital π, terutama dalam system konjugasi atau senyawa organic yang atom-atomnya secara kovalen berikatan tunggal dan ganda secara bergantian (C=C-C=C-C) dan mempengaruhi satu sama lainnya membentuk daerah delokalisasi electron disebut dengan konjugasi. Elektron-elektron pada daerah delokalisasi ini bukanlah milik salah satu atom, melainkan milik keseluruhan system konjugasi ini.
Terimakasih:)